SSL Stripping: Definisi, Cara Kerja, dan Pencegahannya

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Pernahkah merasa percaya bahwa Anda sedang terhubung ke situs web nan aman, tetapi rupanya info pribadi Anda bocor? 

Waspadalah, Anda mungkin menjadi korban SSL stripping

Apa Itu SSL Stripping?

SSL Stripping adalah sebuah metode serangan nan mengeksploitasi celah keamanan dalam proses pengamanan komunikasi website

Secara teknis, penyerang memanipulasi langkah browser pengguna terhubung ke sebuah website.

Normalnya, website nan kondusif menggunakan HTTPS.

Nah, dalam serangan SSL Stripping, hacker secara diam-diam mencegah browser pengguna untuk mengubah hubungan dari HTTP (tidak terenkripsi) menjadi HTTPS (terenkripsi).

Akibatnya, semua info nan dikirimkan antara pengguna dan website melangkah tanpa perlindungan enkripsi. 

Hal ini memberikan kesempatan bagi penyerang untuk memantau dan merekam seluruh komunikasi tersebut, seperti info username, password, dan info kartu kredit. 

Serangan ini masuk kategori Man-in-the-Middle lantaran penyerang diam-diam berada di tengah-tengah komunikasi antara pengguna dan website nan dituju.

Konsep serangan ini pertama kali dipublikasikan oleh seorang mahir keamanan komputer berjulukan Moxie Marlinspike pada 2009. 

Dalam presentasinya, Marlinspike menjelaskan serangan ini sangat rawan lantaran dapat dilakukan pada beragam website nan semestinya aman, secara langsung (real-time), dan susah terdeteksi pengguna awam.

Cara Kerja SSL Stripping

SSL Stripping dilakukan dengan memanfaatkan celah keamanan dalam proses redirection dari HTTP ke HTTPS. 

Berikut tahapan umum gimana serangan SSL Stripping terjadi:

1. Hacker memposisikan diri di tengah-tengah koneksi

Hacker melakukan ini dengan beragam cara, seperti membikin hotspot Wi-Fi palsu, melakukan ARP Spoofing, alias memanipulasi pengaturan DNS .  

2. Pengguna mengakses website HTTPS

Ketika pengguna mengetikkan alamat website HTTPS, browser bakal mengirimkan permintaan awal melalui HTTP. 

Kemudian, website merespons dengan pengalihan untuk menggunakan protokol kondusif (HTTPS) .  

3. Hacker mencegat permintaan dan handshake TCP

Hacker nan berada di tengah hubungan bakal mencegat permintaan HTTP dari pengguna.

Browser dan server memulai handshake TCP nan tidak terenkripsi. Handshake TCP adalah proses pengguna dan server membikin koneksi. 

Proses ini melibatkan pertukaran beberapa pesan untuk memastikan kedua belah pihak siap untuk berkomunikasi. Langkah-langkahnya:  

  • SYN: Klien mengirimkan pesan SYN (synchronization) ke server untuk memulai koneksi.
  • SYN/ACK: Server merespons dengan pesan SYN/ACK (synchronization/acknowledgment) untuk mengakui permintaan pengguna dan menunjukkan bahwa dia juga siap untuk membikin koneksi.
  • ACK: Klien mengirimkan pesan ACK (acknowledgment) untuk mengonfirmasi penerimaan pesan SYN/ACK dari server.

4. Hacker melakukan stripping SSL

Hacker mencegat semua lampau lintas antara pengguna dan server dan menghapus setiap konten SSL dari permintaan pengguna sebelum meneruskannya ke server. 

Akibatnya, server bakal menyediakan jenis HTTP laman tidak terenkripsi, nan kemudian dikirimkan oleh penyerang ke klien.

Hacker juga membikin dua hubungan terpisah. Mereka bakal mempertahankan hubungan HTTP dengan klien, menyajikan konten nan mereka minta. 

Mereka bisa mengakses konten ini dengan membikin hubungan HTTPS mereka sendiri ke server, kemudian mengakses laman nan sama dengan pengguna .  

Ketika server web merespons dengan redirect ke HTTPS, hacker bakal mengubahnya menjadi HTTP sebelum diteruskan ke browser pengguna. 

Dalam serangan SSL Stripping, hacker apalagi tidak perlu membikin salinan website alias aplikasi web. 

Yang perlu mereka lakukan hanya menyiapkan proxy server untuk menganalisis hubungan TCP/IP ke URL HTTP dari situs target, memodifikasi respons TCP/IP, dan menghapus setiap permintaan untuk menggunakan HTTPS. 

Ini mengelabui browser agar berpikir bahwa tidak ada jenis HTTPS dari situs tersebut sama sekali dan mempertahankan hubungan HTTP teks biasa .  

6. Pengguna terhubung ke situs web jenis HTTP

Browser pengguna, nan tidak menyadari manipulasi ini, bakal terhubung ke website jenis HTTP nan tidak aman.

7. Hacker mencuri data

Semua info nan dikirimkan pengguna melalui hubungan HTTP nan tidak terenkripsi, seperti login credentials dan info sensitif lainnya, dapat dicuri oleh penyerang .

Teknik-teknik nan Digunakan dalam SSL Stripping

Teknik Deskripsi Cara Kerja
ARP Spoofing Mengirimkan pesan ARP (Address Resolution Protocol) tiruan ke jaringan lokal. Hacker mengasosiasikan alamat MAC miliknya dengan alamat IP target. Jadi, semua lampau lintas info nan ditujukan ke sasaran bakal dialihkan ke hacker.
Man-in-the-Middle Attack (MitM) Hacker diam-diam menyusup di antara dua pihak nan sedang berkomunikasi. Hacker mencegat, membaca, apalagi memodifikasi info nan dipertukarkan tanpa diketahui oleh kedua belah pihak.
Proxy Server Mengatur proxy server untuk mencegat dan memanipulasi lampau lintas info antara pengguna dan server web. Dengan mengkonfigurasi komputer sasaran untuk menggunakan proxy server milik penyerang, semua lampau lintas info pengguna bakal melewati server tersebut dan disadap oleh hacker.
Hotspot Wi-Fi Palsu Membuat hotspot Wi-Fi tiruan nan menyerupai hotspot asli.. Ketika pengguna terhubung ke hotspot tiruan tersebut, hacker mempunyai akses penuh ke semua lampau lintas info nan melewati jaringan tersebut.

Bahaya SSL Stripping

SSL Stripping mengakibatkan beragam akibat negatif, antara lain:

1. Pencurian info sensitif

Informasi username, password, perincian kartu kredit, dan info pribadi lainnya dapat dicuri oleh penyerang. 

Hal ini terjadi ketika pengguna mengakses website nan semestinya aman, tetapi lantaran SSL Stripping, hubungan diturunkan ke HTTP tidak aman. 

Data nan dikirimkan pun tidak terenkripsi dan rentan dicuri.  

2. Manipulasi data

SSL Stripping tidak hanya mencuri data, tetapi mengubah info nan ditransfer antara pengguna dan server.

Misalnya, hacker memodifikasi perincian transaksi keuangan, seperti nomor rekening tujuan transfer, alias menyisipkan konten rawan ke dalam laman web. 

Coba bayangkan jika Anda melakukan transaksi perbankan online dan hacker mengubah nomor rekening tujuan transfer. 

Tentu sangat merugikan, kan?

3. Phishing dan penipuan

Hacker bisa mengarahkan pengguna ke website tiruan alias laman phishing untuk menipu pengguna agar memberikan lebih banyak data.

Website tiruan ini biasanya terlihat sangat mirip dengan website original sehingga susah dibedakan.

Akibatnya, pengguna tertipu untuk memasukkan info login, perincian kartu kredit, alias info pribadi lainnya ke website tiruan tersebut.  

4. Kehilangan kepercayaan

Serangan nan sukses dapat menghancurkan reputasi sebuah organisasi dan menghilangkan kepercayaan pengguna terhadap sistem keamanan.

Pengguna nan menyadari kerentanan website organisasi terhadap SSL Stripping mungkin bakal menghindari website tersebut alias enggan bertransaksi online dengan organisasi tersebut.  

Cara Mencegah SSL Stripping

Dari Sisi Pengguna

1. Periksa URL dan ikon gembok 

Periksalah apakah website nan Anda kunjungi menggunakan HTTPS dan menampilkan ikon gembok pada bilah alamat. 

Protokol HTTPS nan kondusif bakal selalu diawali dengan “https://” pada alamat web, berbeda dengan “http://” nan tidak aman. Sementara ikon gembok menandakan bahwa hubungan ke website terenkripsi dan terautentikasi. 

Hindari memasukkan info sensitif jika ikon gembok tidak ada alias alamat web hanya diawali dengan HTTP. 

2. Hindari Wi-Fi publik

Sebisa mungkin, hindarilah penggunaan Wi-Fi publik, khususnya ketika melakukan transaksi nan melibatkan info sensitif. 

Hacker sering menargetkan jaringan Wi-Fi publik nan umumnya tidak kondusif dan rentan terhadap serangan MitM seperti SSL Stripping.

Jika terpaksa menggunakan Wi-Fi publik, sebaiknya aktifkan VPN untuk mengamankan koneksi. 

3. Waspadai tautan mencurigakan

Hindari mengklik tautan nan mencurigakan alias tautan nan Anda terima dari sumber tidak dikenal. 

Tautan-tautan tersebut bisa jadi mengarahkan Anda ke website tiruan alias laman phishing nan bermaksud untuk mencuri info pribadi.

4. Perbarui browser

Selalu perbarui browser nan Anda gunakan ke jenis terbaru untuk memperoleh patch keamanan termutakhir. 

Pengembang browser biasanya secara rutin merilis pembaruan nan menambal celah keamanan, termasuk kerentanan nan dapat dieksploitasi oleh serangan SSL Stripping.

Dari Sisi Administrator Jaringan

1. Aktifkan HTTPS di semua halaman

Sajikan seluruh laman dan resource dalam website Anda melalui HTTPS, tidak terbatas pada halaman-halaman sensitif seperti blangko login saja. 

Tindakan ini menjamin enkripsi pada seluruh komunikasi antara pengguna dan website Anda sehingga mengurangi akibat serangan SSL Stripping.

2. Terapkan HSTS (HTTP Strict Transport Security) 

Implementasikan HSTS untuk memaksa browser agar selalu terhubung ke website melalui HTTPS. HSTS mencegah hacker melakukan downgrade hubungan ke HTTP nan tidak aman.

Mekanismenya, HSTS menginstruksikan browser bahwa website hanya boleh diakses menggunakan HTTPS. 

Browser bakal mengingat petunjuk ini dan menerapkannya selama periode waktu nan ditentukan oleh field “max-age” dalam header HSTS.

3. Perbarui sertifikat SSL/TLS secara berkala

Selalu perbarui, validasi, dan konfigurasi sertifikat SSL/TLS Anda dengan benar. 

Sertifikat nan kedaluwarsa alias tidak sah bakal memunculkan peringatan keamanan pada browser pengguna. 

Pengguna bisa saja mengabaikan peringatan ini dan hacker mengeksploitasi situasi tersebut.

4. Gunakan certificate pinning

Terapkan certificate pinning untuk mengaitkan sertifikat tertentu ke server Anda. 

Certificate pinning memastikan browser hanya menerima sertifikat nan telah ditentukan tersebut saat terhubung ke website. 

Penerapan certificate pinning mencegah penyerang menggunakan sertifikat tiruan dalam melancarkan serangan SSL Stripping.

5. Pantau dan audit keamanan

Jalankan audit keamanan dan penilaian kerentanan secara teratur untuk mengidentifikasi dan memperbaiki potensi kelemahan pada penerapan HTTPS Anda. 

Proses ini mencakup pemeriksaan konfigurasi server, pemindaian kerentanan, dan pemantauan lampau lintas jaringan untuk mendeteksi aktivitas nan mencurigakan.

6. Gunakan Certificate Revocation Lists

Manfaatkan Certificate Revocation Lists (CRL) untuk mencabut sertifikat SSL/TLS jika sertifikat tersebut dicuri alias disusupi. 

Pencabutan ini mencegah browser mempercayai sertifikat tersebut, meskipun sertifikat itu sebenarnya tetap valid. 

7. Terapkan Content Security Policy (CSP)

Terapkan Content Security Policy (CSP) untuk memberikan pengurus jaringan kendali atas sumber daya nan diizinkan untuk dimuat oleh browser pada laman web. 

Anda bisa menggunakan CSP untuk memblokir permintaan HTTP saat laman dimuat melalui HTTPS. Tindakan ini menutup vektor serangan SSL Stripping lainnya.

Beli SSL Lebih Hemat di GudangSSL!

GudangSSL adalah penyedia sertifikat SSL terbaik dan termurah nan menyediakan sertifikat SSL dari beragam brand ternama, seperti Sectigo, Globalsign, Entrust, Sectigo, Symantec, dan banyak lagi.

Kami juga menyediakan beragam produk SSL dengan harga 30% lebih hemat daripada CA!

Semua produk SSL di GudangSSL bisa bekerja di lebih dari 99% browser! Bila ada masalah, kami memberikan GARANSI 15 HARI setelah SSL diaktifkan!

Yuk, amankan website Anda sekarang dengan sertifikat SSL dari GudangSSL!

HUBUNGI KAMI SEKARANG!

Selengkapnya
Sumber Tips Trik Gudangssl
Tips Trik Gudangssl