Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Menghitungnya

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

Harga Pokok Penjualan alias HPP adalah salah satu istilah akuntasi nan krusial diketahui oleh pebisnis. Dalam bahasa Inggris, Harga Pokok Penjualan disebut dengan istilah Cost of Good Sold (COGS). Pengertian HPP alias COGS secara umum adalah total biaya nan dikeluarkan untuk proses produksi dan penjualan.

harga pokok penjualan alias COGS

HPP adalah salah satu unsur krusial dalam menghitung besar kecilnya untung dan kerugian. Secara spesifik, HPP digunakan dalam rumus menghitung untung kotor. Harga Pokok Penjualan dibutuhkan pebisnis untuk menentukan nilai jual produk. Dengan begitu, pemilik upaya bisa menghitung nilai jual produk nan ideal agar tetap untung.

Apa nan Dimaksud Harga Pokok Penjualan ?

Harga Pokok Penjualan alias HPP adalah total pengeluaran dan beban nan dikeluarkan secara langsung alias tidak langsung untuk memproduksi peralatan dan jasa. Salah satu komponen dalam HPP adalah Biaya Produksi. Selain itu, biaya impor, biaya jasa perakitan alias pengemasan, dan lain sebagainya juga masuk dalam kalkulasi HPP.

HPP adalah metrik upaya nan digunakan untuk menghitung untung kotor dan margin kotor. Laba kotor dihitung dari mengurangi HPP dengan pendapatan. Lalu untuk menghitung margin kotor adalah dengan membagi untung kotor dengan pendapatan. Semakin tinggi HPP maka semakin rendah untung kotor nan didapat perusahaan.

HPP juga biasa disebut dengan nama biaya penjualan alias COGS (Cost of Good Sold). Cara menghitung HPP bakal lebih mudah jika Anda sudah bisa membedakan komponen apa saja nan kudu dihitung dan mana nan tidak. Komponen apa saja nan masuk kalkulasi HPP ?

Komponen Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP alias Harga Pokok Penjualan terdiri dari:

  • Biaya bahan baku
  • Biaya pengiriman peralatan dan jasa
  • Biaya retur alias potongan pembelian
  • Diskon penjualan
  • Gaji tenaga kerja pabrik
  • Biaya untuk penyimpanan peralatan sebelum dijual
  • Biaya overhead pabrik.

Biaya nan Tidak Termasuk HPP

Ada beberapa komponen nan tidak dihitung dari HPP. Semua biaya non operasional nan tidak berangkaian dengan proses produksi tidak masuk dalam HPP. Contoh biaya nan tidak dihitung di HPP adalah: kembang alias shopping modal, biaya administrasi, biaya pengedaran ke pelanggan, sewa instansi alias pabrik, biaya iklan, penghasilan tenaga kerja di bagian manajemen, pajak, dan lain sebagainya.

Selain itu, ada biaya lain nan tidak masuk dalam kalkulasi HPP ialah biaya produksi untuk produk nan tidak terjual hingga akhir periode pembukuan. Biaya ini bisa Anda cek dari berapa banyak persediaan peralatan di penyimpanan di akhir periode pembukuan.

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

cara menghitung hpp

Rumus untuk menghitung HPP adalah:

(Biaya Pembelian Bersih + Persediaan Awal) – Persediaan Akhir = HPP

Namun, sebelum menghitung HPP ada beberapa tahap nan kudu dilalui, yaitu:

1. Hitung Penjualan Bersih

Langkah pertama sebelum menggunakan rumus HPP adalah hitung penjualan bersih terlebih dahulu. Cara hitung penjualan bersih bisa dengan rumus berikut:

Total Pendapatan – (Retur Penjualan + Diskon Penjualan) = Penjualan Bersih

2. Hitung Pembelian Bersih

Selanjutnya, setelah mengetahui Biaya Penjualan Bersih Anda kudu menghitung Pembelian Bersih. Gunakan rumus berikut ini untuk menghitung Pembelian Bersih:

(Pembelian Kotor + Ongkos Angkut Pembelian) – (Retur Pembelian + Diskon Pembelian) = Pembelian Bersih

3. Hitung Persediaan Barang

Setelah mendapat hasil kalkulasi Pembelian Bersih, langkah selanjutnya adalah menghitung Persediaan Barang. Cara menghitung persediaan peralatan bisa menggunakan rumus berikut ini:

Persediaan Awal + Pembelian Bersih = Persediaan Barang

4. Hitung HPP

Setelah menghitung semua komponen biaya di atas, langkah selanjutnya adalah menghitung Harga Pokok Penjualan. Menghitung HPP bisa dengan rumus berikut ini:

Harga Pokok Penjualan = Persediaan Barang – Persediaan Akhir

atau

HPP =  (Biaya Persediaan Awal + Pembelian Bersih) – Persediaan Akhir

Contoh Cara Menghitung HPP

Toko kue Susi pada tahun 2021 mempunyai info finansial operasional sebagai berikut:

  • Persediaan awal Rp 250.000.000
  • Persediaan akhir Rp 50.000.000
  • Pembelian Kotor Rp 40.000.000
  • Ongkos pembelian Rp 13.000.000
  • Retur Pembelian Rp 7.800.000
  • Diskon Pembelian Rp 5.000.000

Contoh Cara Menghitung Rumus HPP

1. Hitung Pembelian Bersih

(40.000.000 + 13.000.000) – (7.800.000 + 5.000.000) = 53.000.000 – 12.800.000

Pembelian bersih toko Kue Susi sebesar Rp 40.200.000

2. Persediaan Barang

250.000.000 + 40.200.000 = Rp 290.200.000

Persediaan peralatan toko Kue Susi sebesar Rp 290.200.000

3. Harga Pokok Penjualan

Rp 290.200.000 – Rp 50.000.000 = Rp 240.200.000

Harga Pokok Penjualan (HPP) Toko Kue Susi di tahun 2021 sebesar Rp 240.200.000.

Perbedaan HPP dengan Harga Jual

HPP alias Harga Pokok Penjualan adalah jumlah pengeluaran dan beban secara langsung alias tidak langsung nan dikeluarkan untuk memproduksi peralatan alias jasa nan dijual ke konsumen. Sedangkan nilai jual adalah nilai nan dibebankan ke konsumen untuk mendapatkan peralatan alias jasa nan dijual perusahaan. Perbedaan HPP dan nilai jual adalah:

  • HPP hanya mengandung komponen pengeluaran untuk produksi peralatan alias jasa nan dijual
  • Harga Jual sudah termasuk biaya produksi, operasional alias non produksi, untung perusahaan, dan lainnya.

Jadi kesimpulannya, nilai jual bisa lebih tinggi dibanding HPP lantaran semua beban nan tidak dihitung di HPP dibebankan ke nilai jual untuk konsumen. Dari nilai jual, perusahaan bisa membiayai semua pengeluaran baik nan mengenai produksi maupun non produksi.

Itulah pengertian HPP dan langkah menghitungnya. Dengan mengetahui langkah menghitung HPP bakal memudahkan Anda untuk menentukan nilai jual dan kondisi finansial perusahaan. Untuk Anda nan mau mulai berbisnis, sangat krusial untuk memahami HPP dan langkah menghitungnya.

Selengkapnya
Sumber Info Tekno Bhinneka
Info Tekno Bhinneka